Aku Jadi Lupa

28/8/2014

AKU MALU (JADI) MANUSIA INDONESIA

Jika saja aku dilahirkan ke dunia tanpa busana.
Jika saja aku ditelantarkan dibuang begitu saja.
Jika saja aku kecil tak ada yang mengajariku tatakrama.
Jika saja aku dewasa tak tau berdampingan dengan etika dan norma.
Jika saja aku hidup tanpa berbuat benar sekalipun.
Jika saja aku mati tak meninggalkan jejak kebaikan satukalipun.

AKU HARUS LUPA (JADI) MANUSIA KETIMURAN

Muda-mudi Melacur

18/5/2013

Wanitamu candu buat ketagihan
Bekas orang-orang datang
Dulu singgah kemudian ditinggalkan

Senangnya coba-coba buatmu
Tak tau takut ketinggalan
Bikin kelamin dan perut kenyang

Lama ia datang kau tampak bosan
Akhirnya pergi dipisahkan
Kembali yang baru pagi dicampakan

Wanita pusaka tempat pusara
Warisan harta kehidupan luhur
Wasilah…

Suka Susu

4/12/2013

Suka-suka minum susu
Mau susu sapi sukambing suka-sukaku lah
Susu betina perawan janda ku lahap semua nikmat
Suka-suka minum susu
Mau minum dimana suka-sukaku lah
Sembari ngobrol sekawan sendiri berduaan dikamar sampai ngompol susu juga
Suka-suka minum susu
Minum susu tawar sukaku

Imajiner

20/09/2013

Cara berfikir adalah jalan menuju seni. Seni tentang kehidupan, seperti kita menghargai atas segala bentuk pemberian. Mencintai setiap keindahan, menyanjung kebijaksanaan, penghormatan akan kerendahan hati. Kita sengaja memaksakan diri ini untuk berfikir, agar kelak tidak bertindak semaunya. Belajar dari segala kebodohan yang pernah dilakukan. Khayal kadang datang memaki tapi disini tempat kita meraih mimpi lewat imaji. Berfikir dengan luas, layaknya alam tumbuh tinggi dengan cerdas. Jangan ajari mereka tentang mimpi-mimpi. Lakukan sesuatu yang bisa mereka mengerti tanpa penjelasan juga pengulangan.

Bersinggungan

15/9/2013

Salinan benang-benang mimpi yang kadang harus terputus di persimpangan jalan. Kecenderungan membuat semua kegemaran gempar, pasti melulu akan bujuk rayuan gombal mereka. Kacau meradang meracun terus menjalar pada organ paling dalam. Mimpi busuk merasuk kesetanan ketika otak-otak berangsur menyusut kerdil. Yang halus dibulatkan kasar, yang memar dijadikannya kosong ketiadaan. Mimpi menyulam benang-benang semakin kesiangan, siapa yang bekerja akan kewalahan lalu menghantam lain dari mereka. Senang hidup meracau, saling mengusik mengganggu tetangga.

Atas naMa

29/8/2013

Aku melihat kamu tersenyum ditempat yang sama. Kedua kalinya dan itu seperti tanpa rencana.
Aku bertanya, mulai mencari kabar tentang senyum yang berulang.
Aku sengaja menghampiri, kembali di tempat yang samar.
Aku datang tepat dibelakang punggungmu, begitu dekat dan tak sadarkan.
Aku diam memandang kamu mulai bertingkah.

Kamu sadar saat dia masuk tepat disampingmu. Kamu tersadar ketika ia berdiri tepat membayangmu. Kamu tahu kapan dia datang dan pergi. Kamu yakin dia hadir tanpa curiga. Kamu enggan untuk menyapa, menoleh pun sungkan dirasa. Kamu pergi tanpa pamrih.

Atas nama teruntuk kamu yang membuat hari-hari ini gelisah.
Atas nama yang tersirat seperti ia menginginkanmu.
Atas nama yang tersurat layaknya hasrat menjadi.
Atas nama perempuan bernama Ama.

Isyarat Dini Hari

11/08/2013

Kau tahu tentang laut?
Yang sedang kami lewatkan tepat didepan kita saat ini. Laut sesak dibatasi pantai yang menjuntai itu?
Kami mendengar deburan ombak yang tak pernah diam. Selalu bersusulan tiap saat.
Mereka saling mengejar bersahutan. Seperti ingin melewati batas lalu masuk dataran.
Ombak datang kemudian melukai tanahnya. Hinggap sesaat membawa kabur pasirnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sedang memikirkan sebuah tragedi lautan dan daratan. Apakah selama ini mereka sedang bertengkar? Hanya ingin melebarkan kekuasaannya masing-masing.
Atau mereka sedang bercumbu? Menyampaikan kasih yang tak pernah putus, saling menyapa, saling bercengkrama, memadu cinta penuh romantis. Seakan cemburu dibuatnya.

Kabarnya Angin

19/7/2013

Akhirnya malam tiba juga. Membujuk orang-orang untuk berkerumun berbincang legam. Nyiur angin melambai-lambai menyergap tubuh, hawa dan dingin siulnya ingin menyetubuhi tiap raga yang ada. Tiap kali kencang selalu menggigil keinginan mereka. Sementara dalam diam sosok tubuh yang ringkih itu masih tegap kokoh mencermati di sekeliling.

Sesekali bersuar sejenak hilang.

Agama Barumu

28/6/2013

Atas nama Bapak di surga. Alam semesta beserta isinya menjadi saksi tentang sebuah pengakuan. Tentang pengakuan para pemeluk agama baru itu. Aku tak mengerti lagi.

Tuhanmu, agamamu, bapak ibumu, lelakimu, keluargamu, teman-temanmu, cintamu, kasihmu, sayangmu, cincinmu, gaunmu, perkawinanmu, malam pertamamu, lalu beranjak kekeluarga barumu, teman-teman barumu, bapak ibu barumu, cinta barumu, kasih barumu, kesayangan barumu, rumah barumu, hidup barumu, agama barumu, Bapak barumu, Tuhan barumu, yang tak sempat aku genapkan satu persatu agar kau tahu.

Sungguh aku tak sengaja melihatnya, bukan aku mencoba mencari tahu tentang hidupmu, bukan dengan sengaja aku bermaksud melarang tingkah lakumu yang terlampau keterlaluan itu, sungguh aku tak peduli.

Aku tak bermaksud menyinggung kepercayaan barumu itu. Tak bermaksud membenci agama baru yang kau agungkan itu. Tak ingin aku terus berucap karena kekesalanku padamu.

Aku hanya ingin kau sadar betapa besarnya kesalahan yang pernah kau perbuat. Aku tak bermaksud menyalahkanmu. Aku sungguh ingin menghinakanmu karena ketidakberpendiriannya kau benalu.

Untuk mantan teman yang baru saja memulai hidup barunya. Menjelang pengalaman agama barunya. Yang baru saja tersadar kalau kau tenyata pelacur Tuhanmu sendiri. Selamat karena aku tidak ingin mengenalmu lagi.

Sahabat Terbaik

22/5/2013

Bung nampaknya baru malam tadi kita melepas tawa. Dan kita tak pernah lupa untuk berjabat tangan, menunda senyum ketika malam semakin larut dan kita berlalu. Tapi itu jarang sekali terjadi. Biasanya kita bersama-sama menghabiskan waktu hingga lelah menghampiri. Hanya ingin menikmati indahnya sebuah kata kebersamaan.

Tapi waktu itu kau nampak berbeda, tiba-tiba raut wajahmu berubah pucat. Aku tak melihat ada benalu menggerogoti kemaluanmu. Kau itu sang pemberani, tak nampak kau seorang tak bernyali. Belum juga pagi menghampiri, beraninya kau mengatakan, “Aku harus lekas pulang, sampai jumpa sahabat.” Kau meninggalkan kami dengan titik.